Banjarmasin – Wajah udara Kota Banjarmasin yang selama ini dihiasi semrawutnya kabel fiber optik akan segera dibenahi. Pemerintah Kota Banjarmasin melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) kini bergerak cepat menyusun masterplan (rencana induk) untuk memindahkan seluruh jaringan kabel udara ke dalam tanah.
Plt Kepala Diskominfotik Kota Banjarmasin, Febpry Graha Utama, menegaskan bahwa proyek besar ini berawal dari instruksi langsung Wali Kota. Fokus utama saat ini adalah memastikan perencanaan matang agar tidak ada layanan publik yang merugi saat eksekusi dimulai.
"Sesuai arahan Wali Kota Banjarmasin, tahapan pertama yang kita lakukan adalah menyusun masterplan. Bagaimana kita melaksanakan tahapan-tahapan perencanaan, karena perlu disesuaikan mana posisi kabel-kabel optik yang memang sudah siap diturunkan," ujar Febpry saat diwawancarai, Selasa (30/06/2026).
Berdasarkan kajian dari tim konsultan, tantangan terbesar penataan ini terletak pada keberagaman infrastruktur jalan di Banjarmasin yang terbagi menjadi empat karakteristik:
1) Jalan dengan trotoar dan drainase yang sudah siap (ready).
2) Jalan yang hanya memiliki trotoar tanpa jalur pipa bawah tanah (ducting), seperti Jalan Ahmad Yani.
3) Jalan yang hanya memiliki saluran drainase (kondisi paling umum di Banjarmasin).
4) Jalan yang hanya berupa bahu jalan tanpa kelengkapan trotoar maupun drainase.
Karena perbedaan mencolok ini, Pemko tidak bisa menggunakan satu metode yang sama untuk semua wilayah.
"Ini nanti penanganannya berbeda-beda. Skemanya seperti apa, tergantung dari hasil kajian. Ini kan baru penyampaian Laporan Antara, nanti di laporan akhir baru kelihatan bagaimana mekanismenya, apakah melalui investasi, kerja sama pemanfaatan aset, atau metode lainnya. Yang jelas, setelah ini akan segera kita susun regulasinya," urai Febpry.
Dari pemetaan awal, kawasan pusat bisnis Jalan Lambung Mangkurat dibidik menjadi lokasi uji coba pertama karena infrastrukturnya dinilai paling mendekati kriteria ideal, meski masih menyisakan sedikit pekerjaan rumah.
"Contoh yang benar-benar siap sebenarnya, yang trotoar dan drainasenya sudah ready, adalah Jalan Lambung Mangkurat. Itu yang paling sempat disurvei. Cuma memang informasi terakhir, saat ini masih ada kendala teknis pada masalah saluran penyeberangan (crossing)-nya," ungkapnya.
Menariknya, dari hasil ruang diskusi bersama para penyedia layanan internet (provider), disepakati sebuah strategi hibrida agar estetika kota terjaga namun distribusi ke rumah warga tetap efisien. Skemanya adalah menanam kabel utama di bawah tanah, lalu membaginya ke konsumen menggunakan tiang bersama dengan pola memutar.
"Di bawah tanah nanti ada manhole dan ODP (Optical Distribution Point) untuk membagi jaringan ke masyarakat. Pembagian ke rumah-rumah warga itu nanti menggunakan tiang bersama, jadi polanya menyebar seperti cakar ayam. Tapi jaringan utamanya tetap tertanam di bawah," jelas Febpry.
Febpry memastikan Pemko Banjarmasin akan sangat berhati-hati dan tidak akan asal potong kabel di udara sebelum jalur bawah tanah benar-benar berfungsi 100 persen.
"Kita harus punya strategi dan timeline yang jelas. Kapan harus menyusun dulu, kapan harus diturunkan. Enggak mungkin ketika kita menurunkan kabel, di bawahnya belum siap, karena konsumen bisa terganggu. Oleh karena itu, harus ada komunikasi dua arah yang intens antara pemerintah dan provider, termasuk regulasi investasi yang akan disiapkan," pungkasnya.
(Tim Liputan)