Banjarmasin - Pengembangan tanaman sorgum yang dilakukan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai mendapat perhatian luas dan berpotensi menjadi contoh praktik terbaik (best practice) di tingkat nasional dalam upaya mendukung ketahanan pangan.
Tentunya ini sejalan dengan salah satu pilar utama Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai kemandirian bangsa dan swasembada pangan, energi, serta air.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Kalsel, Dedi Supriatna bersama jajaran pengurus lainnya turut mendorong program ini bisa semakin berkembang.
Inisiatif pengembangan sorgum ini rencananya akan dipaparkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) LDII yang akan berlangsung di Jakarta pada 7–9 April mendatang sebagai salah satu program unggulan daerah.
"Salah satu meunggulan LDII Kalsel adalah ketahanan pangan. Alhamdulillah berhasil mengembangkan sorgum ini," ucap Dedi kepada awak media, Sabtu (7/3/2026).
Pengembangan sorgum di Kalsel sendiri juga didukung oleh riset yang dilakukan oleh Anton Puspoyo. Seorang dosen sekaligus peneliti yang berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi riset tingkat provinsi yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalsel.
Penelitian tersebut menyoroti potensi tanaman sorgum sebagai komoditas pangan alternatif yang mampu beradaptasi di berbagai kondisi lahan. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan lahan yang selama ini kurang produktif.
Sejumlah pihak juga telah melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Tim dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII melakukan survei serta dokumentasi ke Kabupaten Tanah Laut untuk melihat perkembangan budidaya sorgum yang tengah dikembangkan.
Hasil pemantauan menunjukkan bahwa tanaman sorgum mampu tumbuh dengan baik, bahkan pada lahan bekas tambang. Kondisi ini dinilai sebagai temuan penting karena membuka peluang pemanfaatan lahan marginal menjadi lebih produktif.
Pengembangan sorgum di Kalsel menjadi salah satu potensi yang cukup menonjol dibandingkan daerah lain yang akan mempresentasikan programnya dalam Munas LDII.
“Setiap daerah memiliki keunggulan masing-masing, namun untuk Kalimantan Selatan saat ini yang paling menonjol adalah pengembangan sorgum, karena sudah melalui tahapan riset, uji coba lapangan, hingga implementasi,” jelas Dedi.
Selain sebagai sumber pangan alternatif, sorgum ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk turunan. Tanaman ini dapat diolah menjadi tepung maupun berbagai jenis makanan olahan lainnya.
Ke depan, masyarakat diharapkan semakin mengenal sorgum sebagai pilihan pangan alternatif untuk dikonsumsi. Bahkan tidak menutup kemungkinan produk olahan dari sorgum akan diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat, termasuk melalui media.
Apabila produk olahannya telah tersedia, pihaknya berencana memperkenalkan berbagai bentuk makanan berbahan dasar sorgum kepada masyarakat agar lebih memahami manfaat serta potensi tanaman tersebut.
Pengembangan ini diharapkan tidak hanya memperkuat sektor riset di daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki potensi pengembangan lahan sorgum.
(Hamdiah)