Banjarmasin - Warga Kota Banjarmasin diimbau meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kemarau ekstrem tahun ini. Seiring munculnya fenomena El Nino yang disebut-sebut berkategori kuat atau “Godzilla”. Kondisi tersebut diperkirakan memicu cuaca lebih panas, kering, dan berkepanjangan.
Peringatan ini disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin berdasarkan proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait anomali iklim yang diprediksi terjadi sepanjang 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Husni Thamrin, menekankan bahwa karakter musim kemarau tahun ini tidak bisa dipandang sebagai kondisi biasa. Intensitas panas diprediksi meningkat dengan curah hujan yang jauh berkurang.
“Ini bukan kemarau normal. Durasinya lebih panjang dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi. Jadi kewaspadaan harus dimulai dari sekarang,” ucap Husni, Selasa (6/4/2026).
Meski bukan wilayah dengan hutan luas, risiko kebakaran tetap menjadi perhatian serius. Pengalaman sebelumnya menunjukkan, kebakaran kerap dipicu hal sederhana seperti pembakaran sampah yang kemudian meluas ke area kering di sekitarnya.
Data tahun 2023 mencatat puluhan kejadian kebakaran lahan di Kota Seribu Sungai. Sebagian besar kebakaran berawal dari aktivitas warga. Kondisi vegetasi kering saat kemarau membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan.
Maka dari itu, BPBD Kota Banjarmasin memetakan sejumlah kawasan rawan, terutama di wilayah Banjarmasin Selatan dan Banjarmasin Utara. Kedua wilayah ini memiliki lahan terbuka yang rentan terbakar saat suhu tinggi. Selain itu, beberapa titik di Banjarmasin Timur juga masuk kategori waspada.
“Lahan dengan vegetasi kering sangat mudah tersulut api. Apalagi saat suhu tinggi dan angin kencang, penyebarannya bisa sangat cepat,” jelasnya.
Selain ancaman kebakaran, dampak lain yang perlu diantisipasi adalah berkurangnya ketersediaan air bersih. Sumber air baku yang bergantung pada sungai berpotensi mengalami peningkatan kadar garam akibat intrusi air laut saat debit air menurun.
Kondisi ini bisa berdampak pada distribusi air bersih bagi masyarakat. Karena itu, warga dianjurkan mulai melakukan penghematan penggunaan air serta menyiapkan cadangan air di rumah masing-masing.
“Kalau kualitas air menurun, tentu akan menyulitkan. Maka dari itu, penting bagi masyarakat untuk bijak menggunakan air dan menyiapkan tandon sebagai langkah antisipasi,” katanya.
Fenomena El Nino diperkirakan mulai terasa pada Mei dan mencapai puncaknya sekitar Agustus. BPBD menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.
Warga diminta segera melaporkan jika menemukan potensi kebakaran atau kondisi darurat lainnya melalui layanan 112 yang beroperasi selama 24 jam.
“Peran masyarakat sangat penting. Semakin cepat dilaporkan, semakin cepat pula penanganan bisa dilakukan,” tutupnya.
(Hamdiah)