Trending

Pedagang Berbeda Saat Sore dan Malam, Dugaan Jual Beli Lapak Pasar Wadai Banjarmasin Terendus

Banjarmasin - Isu dugaan jual beli lapak terendus di Festival Pasar Wadai Ramadan yang digelar di kawasan Siring Nol Kilometer, Banjarmasin. Sejumlah lapak yang pada sore hari menjajakan aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa, disebut berubah saat malam tiba.

Pantauan dan keluhan pengunjung menyebutkan, beberapa stan yang sebelumnya menjual kue dan minuman, berganti menawarkan produk non-kuliner seperti aksesoris telepon genggam, mainan anak hingga peci. 

Adanya perubahan jenis dagangan itu memunculkan dugaan adanya praktik pengalihan atau jual beli lapak di Festival Pasar Wadai Ramadhan tersebut.

Yani, warga Pemurus Dalam, mengaku terkejut saat kembali mengunjungi lokasi pada malam hari. Ia bersama rekannya sempat membeli jajanan untuk berbuka puasa pada sore hari.

“Waktu sore kami beli kue dan minuman. Tapi malamnya, saat kami kembali berkeliling, lapaknya berubah jualan mainan dan aksesoris handphone. Penjualnya juga berbeda,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Project Manager Event, Muhammad Budiansyah, memastikan pihak penyelenggara akan melakukan pengawasan lebih ketat. 

Budi menegaskan, sejak awal telah ada aturan tegas yang melarang pemilik stan memperjualbelikan lapaknya kepada pihak lain.

“Jika terbukti ada yang menjual atau memindahtangankan lapak, akan langsung kami hentikan aktivitas jualannya hari itu juga dan diblacklist untuk penyelenggaraan tahun berikutnya,” tegas Budi.

Selain pencabutan hak berjualan, penyelenggara juga menyiapkan sanksi denda sebesar Rp 5 juta. Dana dari sanksi tersebut, kata Budiansyah, akan dialokasikan untuk kegiatan sosial seperti santunan anak yatim.

Di sisi lain, kondisi di sepanjang badan jalan kawasan pasar juga menjadi sorotan dengan banyak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan.

Kehadiran PKL yang memadati area dinilai membuat suasana terkesan semrawut. Namun nyatanya para PKL disebut diperbolehkan berjualan dengan membayar tarif harian sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu.

Budi membenarkan adanya penarikan biaya tersebut. Ia menjelaskan, awalnya lokasi khusus PKL telah disiapkan di depan Kantor Korem 101/Antasari. Namun karena lonjakan pengunjung, area itu sementara difungsikan sebagai lahan parkir.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Wali Kota untuk mengakomodir para PKL, dengan catatan tetap dilakukan penataan agar lebih rapi. Mereka juga mencari rezeki di bulan Ramadan,” katanya.

Ia menambahkan, pungutan harian yang diterapkan akan digunakan untuk menunjang kebutuhan operasional seperti listrik dan kebersihan, sembari memastikan penataan kawasan pasar tetap menjadi perhatian utama panitia.


(Hamdiah)
Lebih baru Lebih lama