Dinsos Kota Banjarmasin mengirim 6 remaja penyandang masalah kesejahteraan sosial ke PPRSR Mulia Satria Kalsel untuk mengikuti pelatihan keterampilan selama 6 bulan ke depan.
Banjarmasin - Terpaksa putus sekolah dan ngamen di jalanan karena himpitan ekonomi. Kini setelah ditemukan Dinas Sosial (Dinsos) Kota Banjarmasin, hidup Muhammad Riski mulai berubah.
Sebab remaja berusia 16 tahun itu, telah diikutsertakan pelatihan keterampilan yang difasilitasi pemerintah sesuai instruksi Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin.
Kepala Dinsos Kota Banjarmasin, Nuryadi mengatakan bahwa Riski sudah dikirim Panti Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Anak dan Remaja (PPRSR) Mulia Satria Kalimantan Selatan (Kalsel) yang berada di Landasan Ulin, Banjarbaru.
Pengiriman Riski kesana bersamaan dengan enam remaja lainnya yang memiliki masalah yang hampir serupa.
"Jadi ada 6 remaja yang kita kirim ke PPRSR ini untuk mengikuti pelatihan selama 6 bulan agar mereka memiliki keahlian," ungkap Nuryadi, Kamis (15/1/2026).
Nuryadi berharap program ini bisa sedikit melepas masalah kemiskinan yang dihadapi remaja penyandang masalah kesejahteraan sosial seperti mereka agar bisa mandiri dan berpenghasilan.
"Supaya mereka tidak kembali lagi di jalanan setelah memiliki keahlian," kata Nuryadi.
Sebelumnya, Dinsos Kota Banjarmasin melakukan pendataan dan pengusulan ulang terhadap keluarga Riski ini agar bisa mendapatkan bantuan sosial seperti PKH dan lainnya. Mengingat awalnya keluarga ini pernah sebagai penerima manfaat.
Kemudian melakukan pendampingan pengurusan pengambilan ijazah SD yang belum diambil dan pendidikan yang sempat terputus akan dilanjutkan karena sudah seharusnya anak-anak di Kota Banjarmasin mendapat pendidikan yang layak.
"Kami sedang berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyekolahkan Riski ini ke Sekolah Rakyat atau mendaftarkan ke pendidikan kesetaraan (Paket A/B) sesuai usia dan kemampuan anak," ucapnya.
Tentunya pihaknya akan selalu memberikan pendampingan dan pemantauan keberlanjutan pendidikan Riski untuk memastikan agar tidak putus sekolah kembali. Sebagaimana arahan pimpinan Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin.
Adapun ditelusuri lebih lanjut, Riski merupakan anak dari pasangan Suriani dan Ernawari yang perekonomiannya sangat terbatas karena tidak memiliki pekerja tetap.
Selain itu, ayahnya sebagai kepala keluarga hanya bekerja sebagai pengamen sehari-harinya. Maka tak heran penghasilan tidak menentu karena hanya mengharap belas kasihan dari orang-orang.
Kondisi ini juga yang menjadi faktor utama anaknya Riski tidak bisa melanjutkan pendidikan layak dan malah putus sekolah di tengah jalan yang saat itu sudah kelas 2 SMP.
(Hamdiah)