Pengerjaan drainase di Jalan Perdagangan viral dikeluhkan warga sekitar karena dinilai tutup akses mereka.
Banjarmasin - Baru-baru tadi viral di media sosial (Medsos) video singkat berisikan keluhan warga terhadap pengerjaan drainase di Jalan Perdagangan, Kecamatan Banjarmasin Utara yang menutup akses mereka keluar.
Bukan tanpa alasan, proyek drainase itu diduga sempat terhenti sampai 5 hari lamanya tidak ada pengerjaan. Terlebih, letaknya berada tepat di depan jalan komplek perumahaan yang membuat warga sekitar dongkol karena hanya ada akses kayu kecil untuk bisa dilintasi.
Selain itu, video yang dibagikan melalui akun @hj_yuliantisamra memperlihatkan kondisi jalan yang macet total hingga menyulitkan aktivitas warga. Dalam video itu, ia menyampaikan protes langsung kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin.
“Yang terhormat Bapak Wali Kota dan Ibu Wakil Wali Kota Banjarmasin, mohon bantuannya untuk dipush pengerjaan gorong-gorong di Jalan Perdagangan. Kami warga di sini susah banget lewat karena gorong-gorongnya sudah lima hari tidak dikerjakan sama sekali,” ucapnya dengan nada kecewa.
Keluhan tersebut sontak mengundang dukungan warganet, dengan komentar bernada geram bermunculan, menuding proyek dibiarkan mangkrak tanpa informasi jelas ke warga.
Ia menyebut persoalan bukan hanya soal keterlambatan, tetapi juga akses jalan yang lumpuh total hingga membuat mobil tidak bisa melintas dan memaksa warga memarkir kendaraan jauh dari rumah.
“Kami yang pakai mobil itu nggak bisa lewat sama sekali. Terpaksa parkir di luar. Tolong segera diselesaikan gorong-gorong ini. Kami pun tidak tahu siapa yang bertanggung jawab. Kami sangat-sangat kerepotkan,” katanya.
Menanggapi keluhan warga yang menjadi sorotan, Kepala Bidang (Kabid) Drainase Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin, Harwita Oktania, memberikan penjelasan terkait jalur alternatif yang dinilai kurang memadai.
Menurut Harwita, sebuah jembatan alternatif telah disediakan. Namun ukurannya yang kecil menyebabkan hanya kendaraan roda dua yang bisa melintas.
"Itu karena sebelumnya jembatan tersebut diperlebar untuk pemasangan bekisting," ungkap Harwita
Harwita menyebutkan bahwa secara teknis, tahapan awal pekerjaan sebenarnya sudah selesai. Namun, proses selanjutnya mengalami kendala akibat pasang air tertinggi yang terjadi beberapa waktu lalu, menyebabkan aliran air menjadi tidak stabil.
“Dalam kondisi itu, sebagian material sempat tergerus dan menghambat proses penyebaran serta pemasangan gorong-gorong di beberapa titik akses menuju kompleks,” ujarnya.
Sebelumnya, proyek drainase di kawasan Jalan Perdagangan yang memiliki nilai hingga ratusan juta rupiah itu juga sempat menuai kritik dari warga karena minimnya rambu peringatan.
(Hamdiah)