Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin berikan bantuan terhadap salah seorang korban kekerasan di acara Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan 2025 di BCH, Senin (1/12/2025).
Banjarmasin - Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Banjarmasin kampanyekan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Menariknya kegiatan kampanye itu, menguak peningkatan kasus kekerasan yang terjadi selama 6 tahun terakhir di Kota Seribu Sungai.
Berdasarkan data pengaduan yang masuk di UPTD PPA Kota Banjarmasin pada tahun 2019 tercatat ada sebanyak 57 terdiri 27 kekerasan terjadi perempuan, 14 terhadap anak laki-laki dan 16 anak perempuan.
Kemudian tahun 2020, sebanyak 77 kasus kekerasan terdiri 28 perempuan, 12 kasus anak laki-laki dan 37 terhadap anak perempuan. Sedangkan tahun 2021 ada sebanyak 91 kasus terdiri 38 perempuan, 21 kasus anak laki-laki dan 32 kasus anak perempuan
Selanjutnya, tahun 2022 terdata ada 156 kasus, terdiri 56 perempuan, 45 anak laki-laki dan 55 kasus terhadap anak perempuan. Sementara tahun 2023 sempat turun di angka 132 kasus yang terdiri 47 perempuan, 30 anak laki-laki dan 55 anak perempuan.
Namun kasus kekerasan ini mengalami kenaikan lagi pada tahun 2024 di angka 180 kasus. Terdiri dari 62 kekerasan terhadap perempuan, 51 pada anak laki-laki dan 67 terhadap anak perempuan.
Sedangkan di tahun 2025 ini, hingga di bulan Oktober 2025 lalu terdata ada 168 kasus. Terdiri 52 kasus kekerasan terhadap anak perempuan, 40 anak laki-laki dan 76 kasus pada perempuan.
Melihat dari angka kekerasan yang terus meningkat setiap tahunnya. Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin menegaskan bahwa tindak kekerasan bukan perkara yang bisa diterima atau toleransi.
Selain itu, Yamin juga menekankan korban kekerasan berhak mendapat perlindungan sepenuhnya. Seiring dengan itu, Pemko Banjarmasin hadir sebagai garda terdepan dalam penanganan kasus kekerasan ini.
"Tentunya pemerintah selalu berusaha hadir memberikan pendampingan pada korban kekerasan ini," tekan Yamin.
Terpenting lanjutnya, penanganan kekerasan ini tidak hanya tugas pemerintah saja, tapi semua pihak ikut adil berperan. Terutama masyarakat itu sendiri untuk memberikan support kepada korban agar bisa lebih percaya diri.
"Kita harus memberi support kepada korban dengan menegakkan anti kekerasan terhadap. Harapannya melalui kampanye ini bisa memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat bahwa kekerasan merupakan tindakan yang melanggar norma," tutupnya.
Sementara itu, Kepala DP3A Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan mengatakan meningkatnya data kasus kekerasan ini telah menunjukkan meningkatnya kepercayaan dan keberanian masyarakat untuk melapor.
"Dengan banyaknya laporan masuk ini tentu memudahkan kita melakukan penanganan terhadap tindak kekerasan yang terjadi di lapangan," tutur Madan.
Sejauh ini jika melihat data di tahun 2025 ini, kemungkinan angka kasus kekerasan akan melampaui tahun 2024 lalu.
Namun menurutnya hal itu bukan kabar buruk, karena selain korban sudah mulai berani speak up. Tentunya ini sebagai bukti, kanal-kanal laporan semakin terbuka dan pemerintah dengan tanggap menanganinya.
Di samping itu, ia mengungkapkan bahwa 75 persen kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melibatkan perempuan dewasa dan anak perempuan. Baik itu psikis ataupun seksual.
"Tak jarang terutama korban seksual itu dikucilkan. Untuk itu, melalui kampanye ini kita rubah persepsi itu dengan merangkul dan menguatkan mereka untuk pemulihan mereka agar mereka bisa percaya diri lagi," pungkasnya.
(Hamdiah)