Ilustrasi virus HIV. (istimewa)
Banjarmasin - Kota Banjarmasin kini menjadi perhatian setelah mencatat rekor tertinggi kasus HIV di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang mencapai 219 kasus.
Tentunya situasi ini mendorong Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin untuk meningkatkan langkah pencegahan dan penanganan agar penyebaran penyakit tersebut tidak semakin meluas.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Muhammad Ramadhan, menyatakan bahwa strategi penanganan HIV saat ini difokuskan pada langkah-langkah komprehensif seperti skrining dini, pengobatan berkelanjutan, serta pendampingan untuk penderita HIV/AIDS (ODHA).
Fokus awal pemerintah adalah memperluas akses skrining dan deteksi dini terhadap populasi kunci dan kelompok yang dianggap berisiko.
Sebagai wujud komitmen pemerintah, layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) kini tersedia di seluruh puskesmas dan rumah sakit di wilayah tersebut.
“Tujuan pengobatan adalah agar ODHA segera mendapatkan terapi antiretroviral (ARV), menurunkan viral load, memperbaiki imunitas, serta menekan risiko penularan maupun angka kematian,” kata Ramadhan, Minggu (14/12/2025).
Tidak hanya berhenti pada pengobatan, Dinkes juga mengembangkan program yang menyeluruh, termasuk pemberian terapi ARV rutin, pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan primer maupun rujukan, serta perawatan berkesinambungan bagi ODHA.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar pasien dalam proses penanganan. Selain terapi medis, pihak Dinkes juga menyediakan profilaksis untuk mencegah infeksi oportunistik, pendampingan kesehatan secara menyeluruh, pemeriksaan bagi pasangan ODHA, serta pemantauan kesehatan berkala.
Inisiatif pencegahan HIV lebih lanjut diperkuat dengan penerapan program Test and Treat yang mencakup skrining aktif dan pemberian pengobatan sesegera mungkin bagi pasien yang terbukti positif.
Strategi ini menyasar kelompok berisiko tinggi dengan melibatkan puskesmas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan komunitas lokal.
"Kami melakukan VCT mobile ke kelompok berisiko seperti pekerja seks, LSL, pengguna narkoba suntik, hingga ke tempat hiburan malam,” ujarnya.
Selain intervensi langsung secara medis, pihaknya juga memberikan perhatian besar pada program edukasi pencegahan melalui kegiatan penyuluhan reguler. Kegiatan ini dilakukan melalui advokasi langsung, penyebaran informasi terkait HIV/AIDS di tengah masyarakat, hingga sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah guna meningkatkan kesadaran sejak dini.
Ramadhan menyatakan bahwa edukasi menjadi bagian penting agar pelajar dapat memahami bahaya HIV/AIDS sekaligus mencegah perilaku berisiko di kalangan remaja.
Ia pun menegaskan kembali bahwa keberhasilan dalam pengendalian HIV membutuhkan sinergi dari seluruh elemen masyarakat, bukan hanya sektor kesehatan semata.
"Edukasi sejak dini penting untuk membangun pemahaman dan mencegah perilaku berisiko di kalangan pelajar,” ucapnya.
Tentunya berbagai upaya yang telah dilakukan ini, Dinkes Banjarmasin optimis bahwa peningkatan kasus dapat ditekan secara bertahap.
Selain itu, ia juga menyerukan kepada masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap ODHA karena HIV/AIDS adalah persoalan kesehatan yang bisa dikelola bersama dengan baik.
(Hamdiah)