Banjarmasin - Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin terus membuka ruang kolaborasi dengan dunia usaha untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Salah satunya melalui penyaluran bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa perlengkapan sekolah kepada siswa di SDN Kuin Cerucuk 1, Kecamatan Banjarmasin Barat, Selasa (12/5/2026) pagi.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin menyampaikan apresiasi atas kepedulian perusahaan yang telah ikut membantu kebutuhan peserta didik.
Menurut Yamin, bantuan tersebut tidak hanya bernilai materi, tetapi juga menjadi dorongan semangat bagi anak-anak dalam menempuh pendidikan.
“Terima kasih atas perhatian dan bantuan perlengkapan sekolah yang diberikan hari ini. Ini sangat bermanfaat bagi siswa dan memang menjadi kebutuhan mereka,” ucap Yamin.
Yamin berharap langkah positif itu bisa diikuti perusahaan lain, baik BUMN maupun swasta, agar semakin banyak sekolah di Banjarmasin yang merasakan manfaat program CSR.
Menurutnya, keterlibatan sektor usaha sangat penting dalam mempercepat pemerataan fasilitas pendidikan, terutama bagi sekolah yang belum sepenuhnya terakomodasi melalui anggaran pemerintah.
“Kami mengajak perusahaan-perusahaan lain untuk ikut berkontribusi. Bantuan seperti alat sekolah maupun fasilitas lainnya tentu sangat membantu dunia pendidikan di kota ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin, Ryan Utama menilai dukungan CSR sejalan dengan program prioritas pemerintah daerah, khususnya dalam peningkatan mutu layanan pendidikan.
Ryan menjelaskan, SDN Kuin Cerucuk 1 dipilih sebagai penerima bantuan karena pada tahun anggaran 2026 sekolah tersebut belum memperoleh alokasi bantuan sarana pendidikan melalui APBD.
“Melalui CSR ini, sekolah yang belum mendapat bantuan APBD tetap bisa terbantu. Bahkan ada komunikasi lanjutan terkait kemungkinan dukungan untuk rehabilitasi bangunan sekolah,” jelas Ryan.
Ryan menambahkan, pihaknya akan memperluas komunikasi dengan perusahaan dan BUMN agar bantuan CSR tak hanya menyasar perlengkapan belajar, tetapi juga perbaikan fisik sekolah-sekolah yang memerlukan perhatian.
“Sekolah yang belum masuk program rehab APBD akan menjadi prioritas. Minimal ada bantuan pengecatan atau pembenahan ringan agar lingkungan belajar lebih nyaman,” pungkasnya.
Hamdiah