Banjarmasin - Komitmen memperkuat budaya literasi kembali digaungkan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin melalui kegiatan Bunda Literasi Tahun 2026 yang berlangsung di Rattan Inn Hotel, Kamis (23/4/2026).
Lebih dari sekadar agenda rutin, forum ini menjadi ruang serius untuk membedah persoalan mendasar terhadap masih rendahnya minat baca apalagi di tengah derasnya arus informasi digital.
Wali Kota Banjarmasin, Muhammad Yamin menegaskan bahwa literasi kini telah menjadi kebutuhan utama masyarakat.
Menurut Yamin, kemampuan memahami dan mengelola informasi menjadi kunci agar tidak tertinggal di era modern.
“Literasi bukan lagi pelengkap, tetapi fondasi. Tanpa kemampuan ini, kita akan kesulitan bersaing karena tidak mampu menyaring informasi dengan baik,” kata Yamin.
Di sisi lain, kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Kartini ini juga dimaknai sebagai momentum refleksi.
Ia menekankan bahwa semangat Kartini tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi juga pentingnya pendidikan dan peran perempuan dalam membangun keluarga yang literat.
Ia menilai, kemajuan daerah sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang gemar belajar karena itu, literasi harus tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar program formal.
"Makanya kita ingin peran Bunda Literasi ini lebih maksimal lagi agar minat baca lebih meningkat lagi dan terus disosialisasikan di tengah masyarakat," ujarnya.
Bunda Literasi Kota Banjarmasin, Neli Listriani menegaskan bahwa siap memperkuat minat literasi di tengah masyarakat kota. Terutama pada anak usia dini.
Menurut Neli, di era digitalisasi ini memang menjadi tantangan tersendiri. Namun juga dapat dimanfaatkan dalam upaya meningkatkan minat baca.
"Apalagi Dispersip sudah punya pojok baca digitalisasi tentu ini harus dimaksimalkan karena sekarang membaca bisa dimana saja," ujar Neli.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Banjarmasin, Muhammad Ikhsan Alhak menyebutkan bahwa penguatan literasi dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.
“Sejak pelantikan Bunda Literasi di berbagai tingkatan, kegiatan penguatan terus kami jalankan. Hari ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran tersebut melalui pembinaan langsung,” jelas Ikhsan.
Tentunya melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis kebiasaan, pemerintah berharap gerakan literasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan mampu membentuk pola pikir masyarakat yang lebih kritis, adaptif, dan gemar belajar.
"Melalui berbagai upaya ini tingkat minat literasi kita terus meningkat," tutupnya.
(Hamdiah)