Banjarmasin - Setahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin, Yamin - Ananda. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja keduanya sebesar 68 persen sangat puas.
Penilaian itu hasil dari survei yang dilaksanakan Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus) pada 11 hingga 18 Februari dengan melibatkan 400 responden secara acak. Survei dilakukan melalui wawancara langsung dan via telpon dengan rata-rata usia 25-35 tahun .
Dari survei itu, menunjukkan ada beberapa persoalan yang menjadi sorotan serius di tengah masyarakat yakni kesehatan, tata lingkungan, keamanan, penegakan hukum dengan hasil survei tertinggi kurang puas.
Koordinator Nasional LS Vinus, Muhamad Arifin menjelaskan pemicu tingginya penilaian kurang puas dari masyarakat disebabkan beberapa faktor.
Contohnya kesehatan, dimana masyarakat menilai layanan kesehatan di Kota Banjarmasin masih kurang prima.
"Seperti antrian yang panjang dan belum terlalu meleknya digitalisasi. Kemudian di rumah sakit milik pemerintah juga dinilai dokter-dokternya suka memilih-milih. Hal ini beberapa alasan yang menjadi masyarakat kurang puas," jelas Arifin kepada awak media, Jumat (20/2/2026).
Belum lagi lanjut Arifin, sempat adanya pengurangan Penerima Iuran Bantuan (PBI) BPJS Kesehatan yang membuat masyarakat kecewa dan berdampak pada hasil survei.
Kemudian penilaian kurang puas tertinggi juga terjadi pada keamanan di Kota Seribu Sungai. Seperti diketahui saat ini banyak kasus kenakalan remaja yang terjadi. Contohnya, gaster, tawuran, begal dan lainnya yang membuat masyarakat terganggu dan merasa tidak aman.
"Keamanan ini berkaitan lagi dengan penegakan hukum yang dianggap masyarakat lemah untuk kasus seperti begal yang biasanya dikurung sehari," ujarnya.
Sama halnya, penegakan hukum bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin yang tersandung beberapa kasus kontroversi pada tahun 2025 lalu. Namun sanksi yang dijatuhkan dianggap tidak tegas.
Selain itu, persoalan yang dianggap masyarakat belum tuntas ditangani adalah mengenai lingkungan terutama persoalan sampah.
Mayoritas respoden menilai bahwa masih banyak dijumpai sampah yang menumpuk di TPS maupun TPS liar hingga saat ini.
Ditambah dengan kabar alat pengolahan sampah Recycle Center (BRC) yang berada di Komplek Pergudangan 88 Bumi Basirih yang rusak dan tak beroperasional hingga hasil survei kurang puas cukup tinggi di masyarakat.
"Secara tidak langsung ini merugikan masyarakat, karena uang yang digunakan untuk berbagai inovasi pengelola sampah sia-sia. Contohnya sewa gedung BRC itu pasti besar tapi nyatanya tidak beroperasi," terangnya.
Berbeda terbalik dengan hasil survei di bidang infrastruktur yang menunjukkan tanggapan positif dari masyarakat dengan penilaian cukup puas sebesar 71,25 persen.
Padahal jika melihat pemberitaan saat ini, infrastruktur turut menjadi sorotan tajam di tengah masyarakat seperti jalan rusak dan berlubang. Lalu dibanding-bandingkan dengan adanya pengadaan mobil listrik hingga sempat dipertanyakan urgensinya.
Menurutnya, mayoritas responden merasa itu sangat balance. Sebab ketika ada informasi jalan rusak dan lainnya, pemerintah kota langsung turun ke lapangan untuk memperbaiki.
"Tentunya hal ini meningkatkan bagaimana kualitas infrastruktur dengan pengawasan masyarakat langsung. Jadi ketika ada laporan pemerintah langsung segera bergerak menyelesaikan permasalahan itu," jelasnya.
"Pemeliharaan infrastruktur juga cukup baik dilakukan pemerintah kota selama ini. Maka tak heran responden menilai cukup bagus," sambungnya.
Dengan beberapa persoalan yang menjadi sorotan masyarakat tadi, harapannya hal ini menjadi acuan Yamin - Ananda sebagai kepala daerah untuk mengevaluasi segera kinerja mereka beserta jajaran agar kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan mereka lebih tinggi lagi.
"Harapannya survei ini dapat dijadikan dasar bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan dan perbaikan pelayanan ke depan," tutupnya.
(Hamdiah)