Kondisi SDN Sungai Lulut 6 Banjarmasin yang terendam banjir beberapa waktu lalu.
Banjarmasin – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Banjarmasin berdampak pada dunia pendidikan. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin mencatat sebanyak 113 sekolah dasar (SD) mengalami genangan air dengan tingkat yang bervariasi.
Sebagian besar sekolah yang terdampak berada di kawasan bantaran sungai dan dekat dengan aliran sungai besar. Kondisi tersebut membuat sekolah rawan terendam saat air pasang maupun ketika debit air kiriman meningkat.
Kepala Disdik Kota Banjarmasin, Ryan Utama, menjelaskan bahwa genangan air di sejumlah sekolah tidak hanya berlangsung singkat, tetapi ada pula yang bertahan dalam waktu lama.
"Total ada 113 SD yang terdampak. Sebagian airnya hanya menggenang saat pasang, tapi ada juga yang bertahan berhari-hari, bahkan sampai lebih dari sebulan,” ungkap Ryan, Rabu (28/1/2026).
Disdik Kota Banjarmasin saat ini terus melakukan pendataan untuk mengetahui secara detail dampak banjir terhadap sarana dan prasarana sekolah. Genangan air dilaporkan merusak berbagai fasilitas, mulai dari ruang kelas, perabot sekolah, hingga halaman.
Sejumlah sekolah mengusulkan agar halaman sekolah ditinggikan guna mengurangi risiko banjir. Namun menurut Ryan, usulan tersebut belum bisa langsung direalisasikan tanpa kajian teknis yang matang.
"Kami tidak bisa sembarangan meninggikan halaman sekolah. Perlu perencanaan, kajian elevasi, dan penyesuaian dengan kondisi lingkungan sekitar,” kata Ryan.
Sebagai langkah jangka panjang, Disdik Banjarmasin menyatakan dukungan terhadap program Pemerintah Kota terkait revitalisasi dan normalisasi sungai. Menurutnya, tanpa penanganan sungai yang optimal, perbaikan sekolah berpotensi kembali rusak akibat banjir berulang.
Dampak banjir juga dirasakan pada aktivitas belajar mengajar. Hingga kini, beberapa sekolah masih terpaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kondisi lingkungan dan ruang kelas belum aman digunakan.
Dampak banjir juga dirasakan pada aktivitas belajar mengajar. Hingga kini, beberapa sekolah masih terpaksa menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kondisi lingkungan dan ruang kelas belum aman digunakan.
“Ada sekolah yang masih PJJ karena halaman dan ruang kelas terendam, ditambah faktor keamanan karena lokasinya di pinggir sungai besar,” pungkasnya.
(Hamdiah)