BANJARMASIN – Rencana penataan kawasan sekitar Klenteng Soetji Nurani melalui proyek National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) memasuki tahap penyelarasan.
Pemerintah Kota Banjarmasin, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III, dan pengelola Klenteng Soetji Nurani duduk bersama untuk menyamakan persepsi agar pembangunan penanggulangan banjir ini tetap menjaga kelestarian budaya lokal.
Dukungan penuh disampaikan oleh Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Selatan, Herman Chandra.
Ia menegaskan pihaknya menyambut baik penataan kawasan tersebut agar tampil lebih rapi dan memperkuat karakter kota.
"Ya, kita dari pertama memang menyetujui sekali usul daripada pembangunan ini. Karena kita klenteng itu maunya kan bagus dan di situ juga dibikinkan," ujar Herman.
Herman membocorkan salah satu konsep arsitektur yang tengah dibahas, yakni bangunan berornamen khas yang memadukan kesan modern dan tradisi.
"Jadi akan kita bangun delapan lantai, yang empat lantai biasa, yang empat lantai lagi di atasnya pagoda kita bikin. Jadi seolah-olah jadi kepala naganya di situ. Nanti gambarnya gambar naga di sana," jelasnya.
Ia juga meluruskan isu terkait rumor kendala dalam rencana penataan ini. Menurutnya, tidak ada konflik di internal maupun pihak terkait.
"Persepsi selama ini yang terkait dengan adanya polemik itu sudah tidak ada lagi bagi kita. Dari awal kita sudah tidak ada masalah. Dari dulu kita mendukung 100 persen apa yang diinginkan oleh Pemko Banjarmasin," tegas Herman.
Sikap kooperatif tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Wali Kota Banjarmasin, H. Muhammad Yamin HR. Ia menekankan bahwa proyek penanganan banjir NUFReP tak sekadar berfokus pada fungsi teknis drainase, tetapi juga memperhitungkan nilai kebudayaan dan potensi wisata.
"Kami mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi dukungan dari PSMTI. Penataan kawasan ini bukan hanya untuk mempercantik kota, tetapi juga menjaga nilai budaya sekaligus mendorong potensi pariwisata," kata Yamin.
Yamin mengimbau agar komunikasi antar-instansi dan tokoh masyarakat terus terjalin harmonis di setiap tahapan pembangunan.
"Dengan adanya kolaborasi dan kebersamaan seperti ini, pembangunan di Kota Banjarmasin dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh warga," pungkasnya.
Melalui sinkronisasi ini, proyek NUFReP diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan banjir sekaligus memper molek kawasan Klenteng Soetji Nurani sebagai salah satu ikon budaya dan pariwisata baru di Kota Banjarmasin.
Penulis : AS